|
DUA ANAKKU BUKAN
DARAH DAGING SUAMIKU
Oleh:
-- 2002-04-30 07:44:37
Demi orangtua, aku terpaksa meninggalkan kekasih yang sangat aku
cintai dan menikah dengan pria pilihan orangtuaku. Namun, selama
menjalani kehidupan berumah tangga, rasa sayang dan cinta kepada
kekasihku kian menggebu.
 |
Perselingkuhan
pun tak terhindarkan lagi, hingga akhirnya aku melahirkan
dua anak hasil hubungan gelapku dengan kekasihku.
Sebagai seorang wanita, aku sangat setia dan sayang pada
kekasihku. Sayangnya hubungan kami yang sudah berjalan
hampir selama 3 tahun, tidak mendapat restu kedua
orangtuaku. Karena terpaksa, aku rela berpisah dengan
kekasihku dan menikah dengan pria pilihan orangtuaku. Tapi,
rasa sayang dan cinta terhadap kekasihku tidak pernah
hilang.
CINTA PERTAMA
Sebelumnya, aku perkenalkan dulu siapa diriku. Namaku Dewi
(bukan nama sebenarnya) Aku anak ketiga dari 4 bersaudara
dan aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam
keluargaku. Saat ini, usiaku sudah mencapai 36 tahun dan
telah menikah serta memiliki 3 orang anak.
Usai menamatkan kuliah D-3 di kota B, aku memutuskan untuk
pindah dan mencoba mencari kerja di kota J. Mulanya,
usulku ini ditolak Ayah dan Ibuku dengan alasan aku adalah
satu-satunya anak gadis mereka. Tapi setelah aku jelaskan
rencanaku serta dukungan dari kakak sulungku, akhirnya
Ayah dan Ibu merestui kepergianku.
Di kota J, aku tinggal di rumah adik sepupu Ibu yang sudah
berkeluarga dan memiliki seorang anak. Selama beberapa
bulan, aku sempat menganggur. Tapi, atas bantuan suami
adik sepupu Ibuku, akhirnya aku berhasil mendapat
pekerjaan dengan gaji yang cukup lumayan. Aku bersyukur
sekali dan sangat berterimakasih atas kebaikan suami adik
sepupu Ibuku tersebut.
Selanjutnya, aku menjalani kehidupan penuh dengan semangat
dan berbagai rencana. Sejalan dengan hal itu, aku pun
berkenalan dengan seorang pria, sebut saja namanya S teman
satu kantorku. Usia S 4 tahun lebih tua dariku dan
posisinya di kantor juga sebagai atasanku. Tapi, hubungan
kami yang tadinya hanya hubungan kerja, kini berlanjut
sampai pada hubungan cinta kasih. Ya, Pembaca.
Aku sangat mencintai S. Bukan saja karena ia tampan, baik
hati dan cukup berada, tapi juga karena memang hanya
dialah satu-satunya pria yang sangat aku cintai. Terus
terang, selama ini aku belum pernah mencintai laki-laki
lain. Di masa kuliah, memang ada beberapa teman pria yang
berusaha mendekatiku, tapi aku hanya menganggap mereka
sebagai teman atau sahabat. Tapi dengan S, aku baru
benar-benar merasa sangat jatuh cinta dan takut kehilangan
dia.
TIDAK DIRESTUI ORANGTUA
Hubungan cinta antara aku dengan S memang demikian erat,
kami tidak pernah berpisah dan mulai merencanakan masa
depan kami. Sesuai kesepakatan kami, dalam waktu 2 tahun
ini, kami masing-masing akan menabung, lalu menikah dan
membeli rumah dari hasil keringat kami sendiri. Bukan
hanya itu, kami pun sudah sempat merencanakan berapa anak
yang akan kami miliki dan siapa-siapa saja nama mereka.
Ya, pembaca, demikian indahnya masa depan yang kami
rancang berdua. Rasanya lama sekali menunggu waktu 2 tahun
itu. Tapi, karena kami sudah berkomitmen, semuanya harus
kami jalani dengan baik. Selain itu, kami pun berusaha
menjalankan hubungan cinta yang sehat. Dalam arti, sebelum
resmi menjadi suami istri, kami tidak akan melakukan
hal-hal yang bertentangan dengan agama.
Semuanya berjalan sesuai dengan rencana kami. Mendekati
waktu yang sudah kami sepakati, aku pun memberitahukan
kepada kedua orangtuaku perihal hubunganku dengan S
melalui surat dan telepon. Selain itu, aku sampaikan pula
bahwa dalam waktu dekat ini kami akan segera bertunangan
dan menikah. Mendengar kabar dariku itu, tiba-tiba kedua
orangtuaku meminta aku pulang. Aku pikir, mereka memintaku
pulang untuk merencanakan lagi semuanya agar lebih matang.
Tapi ternyata, mereka justru meminta aku memutuskan
hubunganku dengan S.
"Kami tidak mengenal S. Lagi pula, kalian telah lama
berkenalan dan berhubungan, kenapa baru sekarang
menceritakannya pada kami? Bahkan, adik sepupu Ibu pun
tidak tahu sama sekali bahwa kau telah memiliki calon
suami. Kami pikir, selama ini kau tidak pernah memiliki
kekasih dan kami sudah mencarikan jodoh untukmu. Baru
sebulan yang lalu, kami mengatur perjodohan antara kau
dengan teman kakakmu. Semuanya sudah dijalankan. Mulai
dari pertunangan, sampai melamar," ungkap Ayahku
begitu aku sampai di rumah.
Pembaca, terkejut bercampur sedih aku mendengar kabar dari
Ayahku itu. Memang kuakui, selama ini aku tidak pernah
memperkenalkan S sebagai kekasihku, baik pada adik sepupu
Ibuku ataupun pada keluargaku di B. S memang beberapa kali
datang ke tempatku, tapi aku katakan pada adik sepupu
Ibuku bahwa kami hanya berteman saja. Semua itu aku
lakukan tanpa maksud apapun. Aku hanya berusaha agar kedua
orangtua tidak ikut memikirkan apa rencanaku. Aku berniat
mengatakannya setelah semua berjalan lancar dan waktunya
sudah dekat. Ternyata, semua itu justru menjadi masalah
bagiku.
"Tapi, Ayah dan Ibu bisa membatalkan semuanya, kan?"
kataku hati-hati.
"Dewi, kalau hanya baru bertunangan, mungkin tidak
masalah. Tapi ini sudah sampai pada tahap melamar? Tidak
mungkin dibatalkan lagi. Kasihan keluarga mereka. Lagi
pula, kalau itu terjadi, akan menimbulkan permusuhan dan
pertengkaran antara keluarga kita dan keluarga mereka,"
tutur Ibuku pula.
Ya, Tuhan. Kepalaku rasanya berputar-putar dan aku merasa
sangat pusing sekali. Aku tidak tahu apa yang mesti aku
lakukan. Aku tidak mungkin menikah dengan pria lain dan
meninggalkan S.
"Ibu mohon padamu, Dewi. Sekali ini saja Ibu memohon.
Tolong jangan kecewakan kami semua. Sudahlah, kami
berusaha mencarikan yang terbaik untukmu. Percayalah. Kami
hanya ingin membahagiakanmu. Sebaiknya, hubungan dengan S
kau putuskan saja, sebelum semuanya terlanjur jauh. Ibu
memohon, Dewi," pinta Ibuku sambil terbata-bata dan
hampir menangis.
Pembaca, sebagai satu-satunya anak perempuan, aku memang
hampir tidak pernah melawan kedua orangtuaku. Sungguh.
Sejak kecil sampai aku dewasa, menjadi anak kesayangan
mereka, tapi karena aku selalu menurut dan tidak pernah
membantah perkataan mereka. Kali ini, aku pun tidak tega
dan tidak bisa membantah permintaan mereka. Hanya saja,
kini hatiku bagai diiris-iris karena Ayah dan Ibu
memintaku meninggalkan laki-laki yang amat aku sayangi.
Sejak saat itu, aku tidak banyak bicara lebih banyak
mengurung diri di kamar. Aku tidak menolak, juga tidak
menyetujui keinginan orangtuaku. Aku hanya diam dan diam.
Tapi yang aku dengar, Ayah dan Ibu tetap melanjutkan
rencana perjodohanku.
MENIKAH DAN BERKHIANAT
Reaksiku lebih banyak diam, dianggap kedua orangtuaku
tanda persetujuanku untuk menerima perjodohanku. Ya,
Pembaca, mungkin aku memang setuju sebab aku sudah tidak
mampu berpikir apa-apa lagi. Bahkan, aku pun tidak punya
keinginan untuk menghubungi S dan menceritakan semuanya.
Rasanya percuma untuk diceritakan kepada S. Semuanya akan
tetap terlaksana dengan atau tanpa persetujuanku. Beberapa
kali, aku mendengar S mencoba menghubungiku lewat telepon,
tapi Ayah dan Ibu tidak pernah mengijinkanku untuk
menerimanya. Bahkan, Ayah dan Ibu juga melarangku kembali
ke J dan bekerja lagi.
Pembaca, akhirnya hari pernikahanku dengan L, sebut saja
demikian nama calon suamiku, tiba juga. Aku menjalani
semuanya tanpa rasa apapun. L yang juga tampan dan cukup
berada, sama sekali tidak menggugah perasaanku. Tidak ada
rasa bahagia sedikit pun dalam hatiku.
Kupersingkat saja kisahku. Selanjutnya, aku pun menjalani
kehidupan sebagai sepasang suami-istri bersama L. Tapi
jauh di lubuk hatiku, cinta dan rasa sayangku hanya
kuperuntukkan buat S kekasihku. Dalam menjalani
kewajibanku sebagai seorang istri pun, aku tetap
membayangkan S lah yang ada di sampingku.
Walau aku tidak pernah mencintai dan menyayangi L, tapi
Tuhan tetap menganugerahi kami seorang anak. Ya, Pembaca,
setahun setelah menikah, aku pun hamil dan melahirkan
seorang anak perempuan yang kuberi nama P.
L bekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor di kota B ini.
Suatu ketika, ia mendapat kenaikan pangkat dan tugasnya
harus sering pergi ke berbagai tempat, baik di Indonesia
ini maupun ke luar negeri. Sejak saat itulah, ia sering
pergi meninggalkanku dan anakku. Jika pergi, ia bisa
bertugas sampai sebulan penuh. Dan selama itu, hanya aku
dan anakku saja di rumah. Terkadang, aku merasa bosan dan
jenuh.
Berbagai kegiatan sudah kulakukan saat L pergi, mulai dari
bepergian, berbelanja dan sebagainya. Di tengah-tengah
kejenuhan dan kebosanan itu, entah kenapa, aku sering
sekali teringat S di J. Ya, rasa cinta, sayang dan rindu
bercampur baur dalam hatiku, membuatku tidak bisa menahan
diri untuk menelepon S. Ternyata S sendiri sedang
mengangkat teleponku.
"Dewi? Ya, Tuhan! Bagaimana kabarmu?" tanya S di
telepon.
"Aku...aku..."
"Aku tahu, kau telah menikah, bukan? Adik sepupu
Ibumu yang menceritakannya padaku. Tadinya, ia tidak mau
menceritakannya. Tapi setelah aku desak, ia membongkar
semua yang terjadi. Kau dipaksa menikah, kan?" kata S
pula.
"Ya, karena itu, aku mohon maafkanlah aku. Aku tidak
bisa menolaknya sama sekali. Maafkanlah aku," pintaku
pula.
"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu. Kalau kau bahagia,
aku juga sangat bahagia..."
Mendengar perkataan S, aku terisak-isak di telepon.
"Dewi, kenapa? Ada apa? Apakah kau tidak bahagia?"
"Aku mohon, datanglah ke sini segera. Aku sangat
ingin bertemu denganmu. Kumohon, datanglah segera!"
kataku pula.
Pembaca, aku tahu S adalah pria yang baik dan pasti ia
juga masih tetap mencintaiku. Karenanya, ia pun meluluskan
permintaanku untuk datang ke tempatku. Hari itu juga, ia
datang ke B dan menemuiku. Saat bertemu itu, kutumpahkan
segala rasa rindu, cinta dan sayangku pada S. Apalagi
ternyata S pun belum juga menikah, maka aku semakin
leluasa menumpahkan segalanya. Di saat-saat itulah, setan
pun merasuki kami, hingga kami pun melakukan perbuatan
dosa yang semestinya tidak boleh sama sekali kami lakukan.
Tapi, itu bukan perbuatan pertama dan terakhir kami.
Selanjutnya, kami semakin sering melakukannya. Apalagi L
pun semakin sibuk dan semakin sering pergi. Tidak hanya
sebulan, ia pernah pergi sampai 4 bulan lamanya. Aku dan S
pun semakin leluasa bertemu dan melakukan perbuatan dosa
itu. Apalagi, rumahku termasuk jauh dari rumah orangtuaku
dan kakak-kakakku, hingga membuat kami semakin bebas untuk
melakukan apa saja.
Pembaca, sudah hampir 5 tahun lamanya aku dan S hidup
dalam gelimang dosa seperti itu. Bahkan, dari perbuatan
tersebut, telah lahir seorang anak lelaki dan seorang anak
perempuan dari rahimku. Aku tahu, siapapun tidak akan ada
yang membenarkan perbuatan kami, meskipun pada dasarnya
kami saling mencintai dan menyayangi. Tetap saja itu
merupakan perbuatan dosa yang tidak akan pernah bisa
diterima oleh siapapun. Pernah kami berniat berhenti
melakukannya dan tidak saling bertemu, tapi semakin lama
tidak bertemu, hati kami berdua semakin menggebu-gebu.
Yang aku heran, tidak seorang pun mencium perbuatan kami.
Tidak orangtuaku, kakak dan adikku, bahkan L sendiri.
Mereka semua tidak tahu apa yang sudah aku dan S lakukan
selama ini. Bahkan, mereka semua, termasuk L, tidak pernah
menyangka bahwa 2 anak terakhirku bukanlah benih dari
suamiku sendiri. Karena itu, semakin lancarlah aku
melakukannya dengan S.
Tapi walau begitu, saat sedang sendiri, aku sering
menangis dan mengadu pada Tuhan. Aku sadar, selama ini aku
jarang sekali berdoa bahkan melakukan kewajibanku sebagai
umat beragama. Tapi, aku malu untuk bersujud di hadapan
Tuhan, mengingat dosaku yang terlalu banyak dan sangat
hitam. Kini, karena mengidap suatu penyakit yang cukup
serius dan harus sering ke dokter, L tidak lagi bertugas
di luar kantor dan lebih banyak beristirahat di rumah.
Karena itu, aku pun tidak pernah lagi bertemu dengan S.
Bahkan, untuk berhubungan lewat telepon pun sudah sangat
jarang. Hanya sekali-sekali, S bertanya tentang keadaan
kedua anaknya.
Pembaca, rasanya aneh sekali menjalani hidup ini. Setiap
detik, apalagi saat berada di dekat L, aku sering sekali
merasa berdosa padanya karena telah mengkhianatinya.
Apalagi L pun ternyata juga sangat menyayangi semua
anak-anaknya, semakin teririslah hatiku ini.
Kini, rasa berdosa itu membuatku ingin meminta cerai dari
L. Pernah kuajukan niat itu pada L, tapi dia justru
bertanya apakah kekurangan dan kesalahannya selama ini
padaku? Aku hanya bisa menangis dan menangis. Terkadang
ingin kuceritakan semuanya pada L, juga tentang 2 anaknya
yang bukan darah dagingnya, tapi aku tidak punya kekuatan
apapun. Yang terjadi selanjutnya, hubunganku dengan L jadi
semakin dingin dan hambar saja. Dan setiap waktu, melihat
sikapku, L cuma bisa bertanya apa kekurangan dan kesalahan
dirinya? Ya, Tuhan, hatiku semakin teriris mendengarnya.
Pembaca, beri aku saran, jalan apa yang sebaiknya aku
tempuh, agar aku tidak tersiksa seperti ini.
Dewi di B (Alamat lengkap dan fotokopi KTP ada pada
Redaksi)
|
Maitenence: LIKU2LAKI2.COM ©
1999
- 2002
All Rights Reserved
|
|